Kamis, 22 November 2012

Jakarta atau Hong Kong?

       Kalau mau tetap di Jakarta, harus dapat pekerjaan bagus. Tapi harus bagus. Kalau mau kembali ke Hong Kong, ada beban tuntutan, konsekuensi: musim dingin, bahasa Cantonesse, dan makanan China. Sesungguhnya aku cinta Jakarta. Ingin di Jakarta saja. Jadi aku lebih baik putuskan fight mendapatkan mendapatkan yang membuatku merasa baik. *****

       Aku memasang iklan di media iklan online: tokobagus.com dan berniaga.com. Selesai. Aku menunggu.
Tokobagus.com segera menerbitkan iklanku. Waktu demi waktu berlalu, kok tidak ada gebrakan. Aku menilik berniaga.com. Katanya masih direview oleh tim. Besoknya kucek. Masih direview. Besoknya lagi, masih direview juga. Dan besoknya dan besoknya dan besoknya lagi.  Apa sih yang menarik mengapa review sampai berminggu-minggu?
Ah sudahlah. Daku berlalu saja

       Tapi aku sudah putuskan akan di Jakarta saja. Aku tidak kuat dingin. Aku belum bisa bahasanya, dan terlalu berat bebanku kalau aku harus belajar bahasa Cantonesse, belajar memahami hati bos baru, dan beradaptasi dengan makanan sana. Karena aku masih menulis buku. Buku tentang aku di Hong Kong dulu.

       Aku mencoba mengirim CV ke dua, tiga perusahaan yang memasang iklan di media online. Belum ada tanggapan. Yang menanggapi masih tetap memasang iklan lowongannya walaupun iklannya cukup menggiurkan. Artinya akan banyak pelamar mengalir ke sana. Jadi mengapa iklan masih tayang? Ah, aku illfeel. Ga ah.

       Maka mau tak mau, aku cari kerja gampang aja deh. Biar gaji kecil, tidak perlu mikir banyak, agar energi otak bisa dihemat untuk menulis.
Aku kirim CV ke salah satu mantan bosku dulu. Range pekerjaan yang aku bersedia lakukanpun tak tanggung-tanggung: mulai dari pekerjaan Rumah Tangga, Babby Sitter, Administrasi, Marketing, Finance, PPIC, HRD, dsb. Biarin aja. Salah satu pasti ada yang jebol.  Email sent. Aku ga mau melamar. Biar perusahaan yang melamarku. Aku kerjakan dan kirim dari warnet. Laptop sedang disimpan di suatu tempat yang aman.

       Sekarang cuci mata dulu. Jalan-jalan ke ITC Cempaka Mas. Lirik kiri-kanan. Hm, ada banyak lowongan kerja penjaga toko. Lumayan nih. Ga perlu pake energi otak. Energi otakku bisa diirit untuk menulis. Mungkin gajinya UMR ditambah uang makan, okelah. Cukup.

       Aku melirik-lirik toko yang menarik hati. Ada dua tiga toko yang langsung kutanyai. Semua menolakku. Pasti aku ketuaan. Entah mengapa, Indonesia menetapkan standar umur untuk pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan umur. Dan ini hanya berlaku di Indonesia! Di negara-negara lain, semua orang yang qualified untuk mengerjakan suatu pekerjaan, diberi kesempatan bekerja.

       Saat itu berpenampilan sangat muda dari usiaku. Dandananku yang ringan dan manis telah menyulap penampilanku menjadi lebih muda 10 tahun dari usiaku sebenarnya. Aku terlihat cantik dan fresh seperti 28 tahun! Tapi mungkin penampilanku terlihat terlalu mewah untuk seorang penjaga toko. Aku menyadari hal ini. Tapi apa boleh buat, aku sedang lewat dan mencoba.

       Salah satu toko di lantai 3 menarik perhatianku. Toko pakaian pria. Yes. Ini yang kumau. Simple, ga kayak pakaian wanita yang njelimet. Energi otakku bisa lebih irit lagi. Hm, akan kucoba.

       Aku menanyakan karyawan yang sedang bekerja. Mengobrol sebentar, lalu menitipkan CV yang belum sempat kuupdate. Warnet tadi tidak ada printernya. Aku meminta kartu namanya. Aku berlalu. Cuci mata ke mana-mana sambil kirim SMS kepada pemilik toko itu.
Nah lo, semua yang menolakku tadi. Aku akan jualan hebat dan kalian akan menyesal telah menolakku. Hihihi.

Kamu ga salah S1 mau jaga toko? Si Cece pemilik toko membalas SMSku.

Ah ga apa-apa Cece, pekerjaan apa saja saya ga masalah. Asal bisa saya kerjakan dan saya banyak waktu luang.
Tapi gaji bukan S1 lho.
Ga apa-apa Ce. Kan sambil nulis buku. Pemasukan tidak ada sementara kebutuhan hidup berlanjut terus.
Ya udah kalau begitu kamu ketemu saya besok di toko lantai 3 jam 09.45.
Oke Cece. See you tommorrow. *****

       Namanya melamar, perhitungan belum akurat. Aku datang kepagian ke ITC Cempaka Mas. Bahkan lampu belum menyala di atas. Tapi lift sudah diaktifkan. Suara lift ini menjadi seperti bunyi desau air terjun di bangunan raksasa ini tanpa manusia dan toko-toko yang masih terkunci rapat. Aku semakin menajamkan perasaan menikmati suara ini dan terasa mencekam.

       Aku dengan mudah mendapat unit toko kemarin. Aku menunggu sekian lama hingga karyawannya datang. Mereka membuka toko. Apakah aku turut membantu? Sebagai penjaga toko sejati mungkin akan melakukannya. Tapi aku? Ah, kayanya jangan dulu deh. Kan belum jadi karyawan. Takutnya salah.

       Aku menunggu si Cece. Jam 09.45 aku kirim SMS bahwa aku sudah di toko. Tidak dibalas. jam 10.00 ku SMS lagi. Kuingatkan bahwa si Cece menjajikan pertemuan jam 09.45. Dibalas, katanya akan datang ke toko jam 12.00. Apakah aku mau menunggu. Aku katakan, aku akan menunggu. Aku bisa berkeliling dulu cuci mata. Ih, ngga jawaban penjaga toko banget. Belum lagi SMS berikutnya, oke, see you, setelah dia SMS, nanti saya beritau deh kalau sudah datang. Halah. Dah sent. Duh, dia calon bosmu, Hillary, bukan teman mainmu!

        Aku berkeliling cuci mata. Handphoneku berbunyi. Panggilan interview. Katanya si penelepon melihat iklanku di berniaga.com.  Ha? Berniaga.com? Lalu ada telepon lagi, mengatakan hal yang sama. Lalu ada SMS. Ada telepon lagi, ada SMS lagi, lagi dan lagi. Semua panggilan interview. Wah. Panen.

       Setelah keliling, aku naik ke foodcourt lantai 5. Makan rujak. Belum selesai, si Cece SMS sudah sampai. Rujak kubungkus, lalu turun ke lantai 3. Dari ekskalator aku bisa melihatnya. Ah, dia wanita muda yang sangat cantik imut. Dia mengenakan blus longgar berwarna merah dan celana hitam. Rambutnya panjang lurus. Pasti dismoothing.

        "Halo Cece Liken, ini saya Feby". Aku menyalaminya. Aku menyebut nama Feby saja. Simpel, untuk penjaga toko. Dia menyambutku. Dia masih sibuk menata kemeja-kemeja yang baru dibawa dari gudang. Aku menunggunya dengan berdiri di luar. Agak lama baru aku dipanggil kembali. Aku merasa kikuk ketika harus diwawancara oleh bos muda ini dengan berdiri. Dia menanyakan mengapa aku tidak mencari pekerjaan lain aja. Aku mengatakan sedang mencari juga dan memberi argumen. Tapi aku benar-benar kaget ketika dia memberitau bahwa gaji hanya Rp. 600.000,-, tidak ada uang makan bekerja mulai jam 09.45-20.00, dan tidak ada libur. Aku masih mencoba bertahan di hadapannya walaupun hatiku mulai bimbang. Lha kalau begini, kapan aku akan menulis buku. Akhirnya si Cece mengatakan jawabannya besok saja, ya atau tidak. Aku lega dia tidak langsung menerimaku. kalau langsung diterima, maka aku mati langkah. Setidaknya, kurang beretika untuk mundur segera setelah diterima.
Dia juga menambahkan kalau besok aku ada panggilan interview, aku boleh pergi.

       Wawancara hanya dua menit, saudara! Aku pulang setelah cuci mata lagi. Handphoneku terus berbunyi. Sms dan telephone. Panggilan interview. Sampai aku sudah tidak tau lagi perusahaan apa saja yang memanggil.

       Salah satu panggilan itu datang dari sebuah Futures Trading Company. Hm, masa laluku nih. Dan aku masih menyimpan cinta untuk bidang ini. Banyak orang menjadi negatif untuk bidang ini, tapi aku tak pernah sekalipun negatif. Banyak marketer yang bersikap hit and run terhadap nasabahnya, tapi aku, sampai sekarang aku menyimpan cadangan cinta yang sangat besar untuk memanage nasabahku kelak.

       Si penelepon menyebutkan nama perusahaannya di (D Plaza) di kawasan thamrin, di seberang hotel pullman, di samping Grand Hyatt.Meski aku tidak mendengar dengan jelas, aku bisa mencarinya nanti karena dia menyebut nama bangunan-bangunan di sekitarnya. Aku menyanggupi panggilan wawancara besok jam dua siang, dan minta di SMS alamat lengkapnya. Dia menyanggupinya.

       Dah, selesai hari ini. Besok akan interview. Sekarang lanjut ke rujak. *****

       Meski belum kuterima SMS alamat perusahaan trading kemarin, aku tetap berbenah dan berangkat untuk interview ke (D Plaza). Aku sudah berada di atas jembatan busway, ketika sebuah nomor lokal memanggil. Panggilan interview lagi entah yang sudah ke berapa. Aku sanggupi saja. Aku katakan aku sedang berada dekat-dekat situ dan mungkin nanti akan sampai sekitar 1 atau 1,5 jam lagi. Kalau si D Plaza tidak mengirin SMS lagi, maka aku akan langsung ke panggilan barusan. Plaza BII  Menara 3 Thamrin.

       Aku minum dulu di Sarinah, lalu ke Plaza BII lantai 3, interview, diterima bekerja  dan menerima persyaratan kerja. Beres. Excited! Langsung contacting. Orang pertama yang kutelepon adalah bosku dulu. Orangngya humble banget. Dia welcome terhadap presentasi pendahuluanku; konversi bisnis saham yang one way market, one way opportunity dengan bisnis futures yang two way market, two way opportunity. Ibu SD mengundangku presentasi ke rumahnya di Puri Media setelah beliau pulang dari Bali.

       Dengan cinta kumulai pekerjaan ini, bersama cinta kutebar jaring. Semoga cinta ini berbuah cinta, berakhir dengan cinta yang manis bagi semua pihak.

      So? Yes, welcome Jakarta, goodbye Hong Kong! *****

***** to be continue *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar